Selasa, 05 Agustus 2014

Geliat Industri Sepatu di Indonesia


Sektor industri, terutama industri alas kaki ( footwear manufacture ) di indonesia, menjadi menarik untuk dibahas karena kekhasan karakteristik industri ini, baik dari industri yang padat karya, produksinya berdasarkan atas order yang diterima dan sebagian bahan bakunya harus diimpor, sampai mesin produksi yang digunakan merupakan mesin dengan middle technology.
Industri sepatu di indonesia mengalami kemajuan yang signifikan , diawalai dari produsen sepatu yang dikategorikan sebagai industri kecil tetapi memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan brand ternama dalam dan luar negeri, para produsen kecil dengan kualitas bersaing ini, memiliki potensi yang besar di pasar dalam dan luar negeri ,
Salah satunya adalah Firdaus sandy arief seorang Netpreneur asal kota bandung ini mengatakan bahwa geliat pasar fashion khususnya di indonesia ini sangatlah potensial , hal itu ditinjau dari beberapa toko online nya yaitu WWW.SEPATUONLINEBANDUNG.NET Dan  WWW.TOKOSEPATUONLINEBANDUNG.COM  ,  permintaan yang tinggi sering kali jadi tantangan yang menarik untuk produsen kecil yang sedang berkembang , Dukungan semua pihak khususnya pemerintah sangatlah berpengaruh  bagi para produsen sepatu di indonesia.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Binsar Marpaung mendesak pemerintah agar mempercepat program hilirisasi bahan baku untuk menekan ketergantungan industri terhadap bahan baku impor.
Binsar mengatakan selama ini mayoritas pelaku industri sepatu masih bergantung pada bahan baku impor karena minimnya pasokan dari domestik. Dengan kata lain, menurut dia, Apsirindo mendukung program hilirisasi bahan baku tersebut karena dinilai mampu mamacu pertumbuhan industri pendukung dalam negri.


Bila program tersebut telah terealisasi tuturnya, maka dapat dipastikan biaya importasi bahan baku dapat diminimalisasi. "Kalau hilirisasi untuk memacu pertumbuhan industri pendukung ini terealisasi, maka biaya untuk impor akan bisa ditekan seminimal mungkin " ujarnya.
Dia menjelaskan program hilirisasi tersebut berkaitan dengan industri pendukung, seperti pengolahan karet untuk memproduksi sol. Binsar mengungkapkan saat ini mayoritas bahan baku sepatu diekspor ke luar negri. Setelah itu, tambahnya, bahan baku tersebut kembali di impor dalam bentuk bahan jadi atau setengah jadi.


Menurut Binsar,selama ini Indonesia mengimpor karet dari korea dan Tiongkok. Namun sebenarnya bahan baku tersebut berasal dari karet Indonesia karena dua negara tersebut tidak memproduksi karet. "Setelah dihilirisasi di Tiongkok dan Korea Selatan, mereka menjual lagi ke Indonesia dengan harga yang tentu tidak murah " jelasnya.

Binsar menyayangkan kondisi tersebut mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen karet terbesar di dunia. Tapi ironisnya Indonesia tidak bisa mengolahnya sehingga pelaku industri sepatu masih tergantung pada bahan baku impor. Sementara itu, industri kulit dan produk kulit dalam negri juga masih mengeluhnkan kelangkaan bahan baku sehingga industri tersebut tidak mampu memenuhi permintaan pasar.


Sumber : Kementrian perindustrian & berbagai sumber lainnya