Senin, 04 Agustus 2014

10 Perkara yang Menghalangi Termakbulnya Doa


”Jangan salahkan Allah bila doa tak dikabulkan dan jangan pula menggerutu atau jemu,” kata Abdul Qadir-Jailani dalam Mafatih al-Ghaib. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa doa kita tak terkabul? Ada dua sebab mengapa doa tertolak. Yaitu, pertama, tidak memperhatikan adab berdoa, baik adab lahir maupun adab batin.



Rasulullah SAW bersabda, ”Doa seorang hamba Allah tetap dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim atau tak terburu-buru segera dikabulkan.” Seorang sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, apakah maksud terburu-buru?” Rasulullah menjawab, ”Ia mengatakan, ‘aku telah berdoa tapi aku tidak melihat doaku dikabulkan’, sehingga ia mengabaikan dan meninggalkan doanya itu.” (HR Muslim).


Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi Saw lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani)

Ketika suatu doa tak segera menampakkan tanda-tanda terijabah, maka seharusnya seseorang tetap berbaik sangka kepada Allah SWT. Sebab, Allah SWT akan mengganti bentuk pengkabulan doa dengan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi si pemohon atau ditunda pengabulannya hingga hari akhirat dalam bentuk deposito pahala. Rasul pernah bercerita, nanti di akherat ada seseorang yang heran mengapa Allah banyak memberinya rahmat-Nya, ternyata semua itu diperoleh dari do’a-do’anya di dunia yang belum terkabul..

Kedua, perilaku buruk. Syaqiq al-Balkhi bercerita, ketika Ibrahim bin Adham berjalan di pasar-pasar Bashrah, kemudian orang mengerumuni beliau. Mereka bertanya, “Mengapa Allah belum juga mengabulkan doa mereka padahal telah bertahun-tahun berdoa”, bukankah Allah berfirman, ”Berdoalah kalian, maka Aku mengabulkan doa kalian.”. Ibrahim bin Adham menjawab, ”HATIMU TELAH MATI DARI 10 PERKARA”, yaitu :



1. Mengaku kenal Allah, tetapi tidak menunaikan hak-hak Allah yang diWAJIBKAN-NYA.

2. Membaca Al-Quran tetapi tidak mengamalkan isi kandungannya dan tidak berhukum dengan hukumannya.

3. Menyeru manusia agar memusuhi Syaitan, tetapi diri sendiri yang mengikuti ajakan Syaitan.

4. Mengaku umat Nabi SAW, tetapi tetap mengingkari sunnah-sunnahnya.

5. Menyangka atau mengira bahawa dirinya akan memasuki Syurga, tetapi tidak pernah menempuhi jalan kepadanya (Syurga).

6. Menyangka bahawa dirinya akan terbebas daripada api Neraka, tetapi semakin asyik dan seronok dengan kemaksiatan.

7. Mengatakan bahawa kematian itu benar, tetapi tidak pernah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

8. Sibuk memperhatikan aib orang lain, akan tetapi aib diri sendiri tidak pernah di perhatikan.

9. Selalu menikmati kurniaan nikmat Allah, tetapi tidak pernah berusaha untuk mensyukuri nikmatNya.

10. Sering menguburi dan meghadiri jenazah saudaranya & sahabatnya, tetapi tidak pernah mengambil pengajaran daripadanya…