Rabu, 28 Mei 2014

SAHABAT ILMU

Foto ilustrasi


NILAI SEBUAH SENYUMAN
Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah
SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah-Nya sehingga kita
masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk menjalankan
aktivitas kita.
Ketika Anda membuka lembaran sirah kehidupan Nabi Muhammad saw.,
Anda tidak akan pernah berhenti kagum melihat kemuliaan dan kebesaran
pribadi beliau.Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap seimbang dan selaras
dalam setiap perilakunya,  sikap beliau dalam menggunakan segala sarana
untuk meluluhkan kalbu setiap orang dalam setiap kesempatan.
Sarana paling besar yang dilakukan Nabi Muhammad saw. dalam dakwah
dan perilaku beliau adalah, gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar,
tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibir untuk selanjutnya
masuk ke relung kalbu yang sangat dalam.
Jangan Anda tanyakan efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran,
menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa, menghancurkan tembok
pengalang di antara anak manusia!. Itulah ketulusan yang mengalir dari dua
bibir yang bersih, itulah senyuman!
Itulah senyuman yang direkam Al Qur’an tentang kisah Nabi
Sulaiman as, ketika Ia berkata kepada seekor semut,
“Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut
itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri
nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang
ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; Dan
masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu
yang saleh”. An Naml:19
Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak 
aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan 
beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.” 
Suatu ketika Muhammad saw. didatangi seorang Arab Badui, 
dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad 
saw., sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara 
keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari 
Baitul Maal! Muhammad saw. menoleh kepadanya seraya tersenyum. 
Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal 
kepadanya.” 
Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang 
terlambat dan tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum 
mendengarkan alasan mereka. 
Ka’ab ra. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang 
munafik dan sumpah palsu mereka: 
“Saya mendatangi Muhammad saw., ketika saya mengucapkan 
salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang 
marah. Kemudian beliau berkata, “Kemari. Maka saya mendekati beliau 
dan duduk di depan beliau.” 
Suatu ketika Muhammad saw. melintasi masjid yang di dalamnya 
ada beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah 
terdahulu, beliau lewat dan tersenyum kepada mereka. 
Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci, sampai 
akhir detik-detik hayat beliau. 
Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan 
Muslim, “Ketika kaum muslimin berada dalam shalat fajar, di hari Senin, 
sedangkan Abu Bakar menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan 
oleh Muhammad saw. yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau melihat 
kaum muslimin sedang dalam shaf shalat, kemudian beliau tersenyum 
kepada mereka!” 
Sehingga tidak mengherankan beliau mampu meluluhkan kalbu 
sahabat-shabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya! 
Menyentuh Hati 
Muhammad saw. telah meluluhkan hati siapa saja dengan 
senyuman. Beliau mampu “menyihir” hati dengan senyuman. Beliau 
menumbuhkan harapan dengan senyuman. Beliau mampu menghilangkan 
sikap keras hati dengan senyuman. Dan beliau saw. mensunnahkan dan 
memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. 
Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam 
kebaikan. Rasulullah saw.  Bersabda ; 
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” At Tirmidzi dalam 
sahihnya. 
Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi dan praktek 
beliau, namun kita masih banyak melihat sebagian dari kita masih berlaku 
keras terhadap anggota keluarganya, tehadap rumah tangganya dengan tidak 
menebar senyuman dari bibirnya dan dari ketulusan hatinya. 
Anda merasakan bahwa sebagian manusia -karena bersikap 
cemberut dan muka masam- mengira bahwa giginya bagian dari aurat yang 
harus ditutupi! Di mana mereka di depan petunjuk Nabi yang agung ini! 
Sungguh jauh mereka dari contoh Nabi muhammad saw.! 
Ya, kadang Anda melewati jam-jam Anda dengan dirundung duka, 
atau disibukkan beragam pekerjaan, akan tetapi Anda selalu bermuka 
masam, cemberut dan menahan senyuman yang merupakan sedekah, maka 
demi Allah, ini adalah perilaku keras hati, yang semestinya tidak terjadi.  
Pengaruh Senyum 
Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyuman, mengaitkan 
dengan pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. 
Mengkaitkannya boleh-boleh saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi 
sepakat akan hal itu. Namun, seorang muslim memandang hal ini dengan 
kaca mata lain, yaitu kaca mata ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari 
mencontoh Nabi saw. yang disunnahkan dan bernilai ibadah. 

by Firdaus Sandy (firdaus.insanmadani@gmail.com)