Kamis, 29 Mei 2014

Entrepreuneurship

Entrepreneurship

Sesungguhnya, aturan dalam syariat Islam yang mulia ini telah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dan memberi solusi terbaik untuk individu maupun masyarakat. Syariat juga mengatur bagaimana seharusnya manusia berinteraksi dengan Allah, berinteraksi dengan sesama. Semua aturan dan solusi yang dibawakan dalam syariat ini tidak keluar dari batas kehalalan atau perkara mubah yang disyariatkan, yang sentiasa menjaga hak-hak, memelihara kemaslahatan, serta menyingkirkan bahaya dankerusakan.
Ketika Mendengar kata Wirausaha atau Enterpreneur, umumnya orang akan berpikir tentang pengusaha, bisnis, uang, dsb. Padahal pada dasarnya, Enterpreneurship tidak selalu berhubungan dengan uang. Enterpreneurship adalah sebuah mindset atau pola pikir yang seharusnya dimiliki oleh setiap pribadi muslim, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Seorang Enterpreneur selalu dianjurkan untuk memiliki pola pikir diluar kebiasaan orang pada umumnya, Enterpreneur akan lebih sering menggunakan otak kanan untuk menghasilkan kreativitas-kreativitas baru, selalu memotivasi diri, dan tersenyum dalam segala situasi. Enterpreneur akan melihat masalah sebagai suatu tantangan yang harus dipecahkan,. Kegagalan dianggap sebagai batu loncatan, pembelajaran bahkan pemicu semangat untuk meraih kesuksesan.
Diluar konteks usaha dan sekedar mencari keuntungan, seorang enterpreneur juga akan selalu berusaha untuk menjalin silaturahmi dengan semua kalangan, memperkaya ilmu dengan lebih banyak mengamati dan mendengarkan, serta peka terhadap peluang. Enterpreneur akan melihat segala sesuatu dari segi positif, mengubah kata ‘tidak bisa’ menjadi ‘bisa’, sulit menjadi mudah, mustahil menjadi mungkin. Itulah sebagian ciri pola pikir yang dimiliki oleh seorang enterpreneur, atau lebih kita kenal dengan enterpreneurship.
Enterpreneur berasal dari bahasa Perancis dan pertama kali diperkenalkan pada abad ke-18 oleh ekonom perancis, Richard Cantillon. Menurut akar bahasa latinnya, entre berarti masuk, pre berarti sebelum, dan neur berarti pusat syaraf. Jadi, Wiraswasta didefinisikan sebagai seorang yang memasuki dunia bisnis – bisnis apa saja- tepat pada waktunya untuk membentuk atau mengubah pusat syaraf (nerve center) bisnis tersebut secara substansial.
Dalam bahasa Indonesia terdapat dua terjemahan untuk kata enterpreneur, yaitu wiraswasta dan wirausaha. Wira : utama,gagah berani, luhur: Swa: sendiri ; Sta: berdiri; Usaha: kegiatan produktif. Dari asal kata tersebut, wiraswasta pada mulanya ditujukan pada orang-orang yang dapat berdiri sendiri. Di Indonesia kata wiraswasta sering diartikan sebagai orang-orang yang tidak bekerja pada sektor pemerintah atau swasta,yaitu para pedagang dan pengusaha. Sedangkan wirausahawan adalah orang-orang yang mempunyai usaha sendiri. Menurut Nasrllah Yusuf (2006):”Wrausaha meupakan pengambilan resiko untuk menjalankan usaha sendiri dengan memanfaatkan peluang-peluang untuk menciptakan usaha baru atau degan pendekatan yang inovatif sehingga usaha yang dikelola berkembang menjadi besar dan mandiri dalam menghaapi tantangan-tantangan persaingan.
Secara esensi pengertian enterpreneurship adalah suatu sikap mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak seseorang terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya dan selalu berorientasi kepada pelanggan, Atau dapat juga diartikan sebagai semua tindakan dari seseorang yang mampu memberi nilai terhadap tugas dan tanggungjawabnya. Sedangkan kewirausahaan merupakan sikap mental yang selalu aktif dalam berusaha untuk memajukan karya baktinya, dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan didalam kegiatan usahanya. Selain itu, kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses.
Wirausahawan adalah orang yang mampu berdiri sendiri dan berani membuka kegiatan produktif, Ia tidak tergantung kepada suatu perusahaan maupun pemerintah, melainkan membangun perusahaannya sendiri. Seseorang yang memiliki usaha sendiri tidak menggantungkan penghasilan dan kehidupannya kepada orang lain, dari sanalah ia dikatakan mandiri secara finansial. Namun, meski mereka mandiri bukan berarti seorang wirausaha serta merta mengandalkan dirinya sendiri dalam mengembangkan usahanya. Seorang wirausaha perlu membuka jaringan (networking) dengan orang-orang disekitarnya. Ia perlu berinteraksi dan bersosialisasi dengan banyak orang untuk menjaring pasar dan konsumen. Dengan kata lain, Ia menambah relasi / rekanan agar bisnisnya cepat berkembang. Tidak hanya sebagai wadah pemasaran produk, memiliki kenalan yang luas juga akan mempermudah wirausahawan untuk mencari tambahan modal, serta lebih cepat mendapatkan informasi terbaru yang bisa digunakan untuk inovasi produknya.


Islam memang tidak memberikan penjelasan secara eksplisit terkait konsep tentang kewirausahaan (enterpreneurship) ini, namun diantara keduanya mempunyai kaitan yang cukup erat, memiliki ruh atau jiwa yang sangat dekat, meskipun bahasa teknis yang digunakan berbeda.
Dalam Islam digunakan istilah kerja keras, kemandirian (biyadihi), dan tidak cengeng. Setidaknya terdapat beberapa ayat Al-Quran maupun Hadits yang dapat menjadi rujukan pesan tentang semangat kerja keras dan kemandirian ini, seperti; “Amal yang paling baik adalah pekerjaan yang dilakukan dengan cucuran keringatnya sendiri (HR.Abu Dawud)”
Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah” (HR.Bukhari dan Muslim) dengan bahasa yang sangat simbolik Rasulullah mendorong umatnya untuk bekerja keras supaya memiliki kekayaan, sehingga dapat memberikan sesuatu kepada orang lain. “Manusia harus membayar zakat (Allah mewajibkan manusia untuk bekerja keras agar kaya dan dapat menjalankan kewajiban membayar zakat)”.
 Dalam sebuah ayat Allah berfirman, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu kerjakan.”(QS. At-Taubah : 105)
Maka dari itu “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia (rezeki) Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah : 10). Bahkan Sabda Nabi, “Sesungguhnya bekerja mencari rizki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah fardlu”. (HR. Tabrani dan Baihaki).
Nash ini sangat jelas memberikan isyarat agar manusia bekerja keras dan hidup mandiri. Bekerja keras merupakan esensi dari kewirausahaan. Prinsip kerja keras, menurut Wafiduddin, adalah suatu langkah nyata yang dapat menghasilkan kesuksesan (rezeki), tetapi harus melalui proses yang penuh dengan tantangan (reziko). Dengan kata lain, orang harus berani melewati resiko akan memperoleh peluang rizki yang besar. Kata rizki memiliki makna bersayap, rezeki sekaligus reziko (baca; resiko).
Dalam sejarahnya Nabi Muhammad Saw, istrinya dan sebagian besar sahabatnya adalah pedagang dan enterpreneur mancanegara yang piawai. Beliau adalah praktisi ekonomi dan sosok tauladan bagi umat. Oleh karena itu, sebenarnya tidaklah asing jika dikatakan bahwa mental enterpreneurship inheren dengan jiwa umat islam itu sendiri. Bukankah islam adalah agama kaum pedagang, disebarkan ke seluruh dunia setidaknya sampai abad ke-13 M, oleh para pedagang muslim. Umar ibnu khattab mengatakan bahwa, “Aku benci salah seorang di antara kalian yang tidak mau bekerja yang menyangkut urusan dunia.”
Keberadaan Islam di Indonesia juga disebarkan oleh para pedagang. Disamping menyebarkan ilmu agama, para pedagang ini juga mewariskan keahlian berdagang khususnya kepada masyarakat pesisir. Di wilayah pantura, misalnya, sebagian besar masyarakatnya memiliki basis keagamaan yang kuat, kegiatan mengaji dan berbisnis sudah menjadi satu istilah yang sangat akrab dan menyatu sehingga muncul istilah yang sangat terkenal “jigang” (ngaji dan dagang).
Sejarah juga mencatat sejumlah tokoh Islam terkenal yang juga sebagai pengusaha tangguh, diantaranya Abdul Ghani Aziz, Agus Dasaad, Djohan Soetan, Perpatih, Jhohan Soelaiman, Haji Samanhudi, Haji Syamsuddin, Niti Semito, dan Rahman Tamin.
Apa yang tergambar diatas, setidaknya dapat menjadi bukti nyata bahwa etos bisnis yang dimiliki oleh umat Islam sangatlah tinggi, atau dengan kata lain Islam dan berdagang ibarat dua sisi dari satu keping mata uang. Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi, “Hendaklah kamu berdagang karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rizki” (HR. Ahmad).
Adapun Motif berwirausaha dalam bidang Perdagangan menurut ajaran Islam, Yaitu:
-          Berdagang Tidak sekedar Cari Untung.
Pekerjaan berdagang adalah sebagian dari pekerjaan bisnis yang sebagian besar bertjuan untuk mencari laba sehingga seringkali untuk mencapainya dilakukan hal-hal yang tidak baik, penuh trik, penipuan, dll. Padahal ini sangat dilarang dalam Islam.
-          Berdagang adalah Hobi
Menekuni kegiatan berdagang dengan sebaik-baiknya dengan melakukan berbagai terobosan, yaitu dengan open display, window display,  interior display, dan close display.
-          Berdagang adalah Ibadah
Bagi umat Islam berdagang lebih kepada bentuk ibadah kepada Allah SWT. Karena apapun yang kita lakukan harus memiliki niat untuknberibadah agar mendapat berkah. Berdagang dengan niat ini mempermudah jalan kita mendapat rezeki. Para pedagang dapat mengambil barang dari tempat grosir dan menjual kembali di tempatnya. Dengan demikian masyarakat yang ada di sekitarnya tidak perlu jauh untuk membeli barang yang sama.
-          Perintah Kerja Keras
Allah memerintahkan kita untuk tawakal dan bekerja keras untuk dapat mengubah nasib. Jadi intinya adalah inisiatif, motivasi, kreatif, yang akanmenumbuhkan kreatifitas untuk perbaikan hidup. Selain itu kita juga dianjurkan untuk berdoa dan memohon perlindungan Allah swt, sesibuk apapun kita berusaha.
-          Perdagangan / Berwirausaha adalah Pekerjaan Mulia
Suatu hari ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, ”Mata pencaharian apakah yang paling baik, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab :” Ialah seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih.” (HR.al-Bazzar).

Semoga kita dapat mengambil hikmah atau inspirasi dari paparan singkat ini, dan semoga kita  termasuk umat yang selalu di rahmati Allah swt.Amin.


◙ A herry Taryana 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar