Selasa, 10 Juni 2014

HAKIKAT SYUKUR


Al-Kautsar [108]:1
Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.
Sudah cukup jelas dan nampak  semua yang ada di langit dan bumi yang indah ini adalah ciptaan Allah SWT.Tak cukup sampai disini allah swt berkarya dan memberikan sekaligus membuktikan ke Esaan-nya.Allah swt memberikan kehidupan pada kita termasuk berjuta – juta fasilitas di dalamnya,,,Coba seandainya kita hitung dari awal kita lahir kedunia hingga sekarang berapa kenikmatankah yang sudah kita rasakan??? Kita masih menggunakan mata yang bisa melihat keindahan-keindahan alam sekitar,kita masih menggunakan telinga yang kiranya masih cukup penting dalam hal komunikasi dan informasi,kita masih menggunakan mulut kita untuk makan dan berbicara,kita masih menggunakan tangan untuk melakukan ratusan bahkan jutaan kali aktifitas seharinya,kita masih menggunakan kaki  untuk melewati dan mengantarkan kita ketempat yang kita tuju dan inginkan,,dan sangat banyak sekali kenikmatan-kenikmatan Allah swt yang kiranya sangat sulit sekali seandainya disebutkan satu persatu.

Ar-rahman[55]:65
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Sebelum kita lahir kedunia, Allah swt  sudah merencanakan segala sesuatunya.Termasuk rezekinya,jodohnya,kebahagiaannya,kematiannya.Namun hal ini bukan untuk menjadi acuan buat kita.Semuanya bergantung pada diri kita sejauh mana kita bersabar,berikhtiar,dan mensyukuri apa yang sudah kita dapat.
Diantara kenikmatan-kenikmatan yang allah swt berikan kepada kita seharusnya dapat menjadikan kita lebih bertaqwa dan lebih dekat lagi dengan allah swt.Karena selama ini manusia tidak sadar bahkan lupa dari mana dia berasal,siapa yang selama ini memberikan kehidupan,siapa yang selama ini memberikan rezeki.Kita tidak perlu membayar dan mengganti apa yang sudah didapatkan dan dinikmati oleh kita,karena itupun tidak  mungkin bisa kita laksanakan.kita hanya cukup bersyukur aja kepada Allah swt dengan cara belajar memaksimalkan beribadah kepadanya.
 Ibadah kita kepada-Nya semata-mata berpangkal dari kesadaran kita sendiri, yakni kesadaran tentang keharusan untuk bersyukur kepada-Nya karena telah memberi kita begitu banyak nikmat. Rasulullah pernah ditanya sahabatnya, mengapa beliau shalat sunat di malam hari (qiyamullail) sampai kakinya bengkak-bengkak. Bukankah beliau sudah diampuni segala dosanya yang akan datang, bukankah beliau sudah dijamin masuk surga? Jadi, buat apa beliau susah-susah memperbanyak ibadah? Beliau menjawab, ''Tidak bolehkah aku bersyukur?'' Jawaban beliau ini untuk menjelaskan bahwa tujuan ibadah bukan semata-mata untuk mengharap surga-Nya, atau agar terhindar dari neraka-Nya. Namun, lebih dari itu, ibadah adalah ekspresi rasa syukur kita kepada Allah atas semua nikmat pemberian-Nya.

Mungkin kita bisa coba belajar dengan cara berikut ini :
Allah SWT sendiri tidak suka kepada manusia-manusia yang enggan bersyukur. Dalam sebuah hadis qudsi, Dia berkata, ''Siapa yang tidak mau bersyukur atas nikmat pemberian-Ku, dan tidak mau bersabar atas cobaan-Ku, maka silakan saja ia keluar dari kolong langit-Ku dan silakan ia cari tuhan selain Aku!'
Fenomena saat ini yang sering kita jumpai di kalangan masyarakat,kita lebih enjoy dan sangat menikmati indahnya kehidupan duniawi.kita sangat sibuk dengan urusan pekerjaan kantor,urusan bisnis,urusan keluaraga, dsb.sehingga yang lebih ekstrim lagi kita sering meninggalkan kewajiban-kewajiban kita,kita sering meninggalkan hak-hak ibadah kepada Allah swt.disini sudah membuktikan bahwa manusia didunia masih banyak yang lupa dan enggan bersyukur kepada Allah swt.Kita harus hati-hati dan perlu ingat saat Kebahagiaan,kenikmatan,harta kekayaan yang selama ini masih bisa kita nikmati suatu saat bisa Allah swt ambil.
Ibrahim[14]:7
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
Disisni Allah secara tidak langsung sudah memberikan penawaran kepada kita,apakah kita sudah puas dengan nikmat yang sudah didapatkan??? Sesungguhnya seandainya kita bersyukur maka masih sangat banyak kenikmatan-kenikmatan yang belum Allah swt turunkan kepada kita,Allah swt sedang mencoba,sedang menguji,sejauh mana hamba-hambanya bersyukur dari semua yang telah diberikan kepadanya,dan bisa jadi kebanyakan orang sangat sulit mendapatkan kemudahan dalam mencari rezekinya,selalu diberi kesusahan-kesusahan,karena mungkin bersumber dari hal yang sepele karena kita enggan bersyukur dan lupa akan kewajiban-kewajiban kita kepada Allah swt.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah swt. Secara ringkas, mensyukuri nikmat ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.       Mensyukuri dengan hati, dengan mengakui, mengimani dan meyakini
 Bahawa kenikmatan ini datangnya dari Allah SWT semata.
2.       Mensyukuri dengan lisan, dengan memperbanyak ucapan Alhamdulillah (segala puji milik Allah) Wasysyukru Lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).
3.      Mensyukuri dengan perbuatan..Mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah untuk menunaikan perintah-perintah Allah, baik perintah wajib maupun sunnah.
4.      Mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah dengan cara menghindari, menjauhi dan meninggalkan segala bentuk larangan Allah, baik larangan yang haram maupun yang makruh.

Syukur dengan hati, lisan dan perbuatan ini hendaklah terefleksi dan tercermin pada setiap momentum yang bersifat zhahir, bahkan yang tersamar sekalipun. Contoh cerminan sikap mensyukuri nikmat Allah yang tampak secara lahir ini dapat dilihat dalam sikap Nabi Sulaiman AS, saat ia mendapati singgasana Balqis telah ada di sampingnya dalam sekejap mata. Saat itu Nabi Sulaiman langsung berkata, "Ini adalah anugerah Allah. Dia bermaksud mengujiku, adakah aku bersyukur ataukah aku kufur." (QS An-Naml: 40)

Juga tampak dari sikap Raja Dzulqarnain yang sukses membangun radm (semacam benteng) untuk menghalau serbuan Ya'juj Ma'juj. Setelah sukses besar yang luar biasa ini, ia tidak menisbatkan prestasi spektakulernya itu kepada dirinya, akan tetapi menisbatkannya kepada Allah. Ia berkata, "Ini adalah rahmat dari Tuhanku." (QS Al-Kahfi: 98)

Sikap yang sebaliknya ditunjukkan oleh Qarun. Saat ia ditanya oleh kaumnya tentang kejayaan perniagaannya, ia tidak mensyukuri kejayaan itu kepada Allah. Dengan penuh 'ujub, sombong dantakabbur ia berkata, "Semua ini aku dapatkan semata-mata karena ilmuku, kepintaranku, kepiawaianku" (QS Al-Qashash: 78). Kerana itulah ia diazab Allah.
Sikap yang sebaliknya ditunjukkan oleh Qarun. Saat ia ditanya oleh kaumnya tentang kejayaan perniagaannya, ia tidak mensyukuri kejayaan itu kepada Allah. Dengan penuh 'ujub, sombong dantakabbur ia berkata, "Semua ini aku dapatkan semata-mata karena ilmuku, kepintaranku, kepiawaianku" (QS Al-Qashash: 78). Kerana itulah ia diazab Allah.
Wallahualam bi sowab.....

( Rochmana )