Minggu, 22 Maret 2015

Peranan Dzikir


Majelis Dzikir Tawakal Bandung

Bukanlah hal yang sukar bagi Allah s.w.t untuk mengubah suasana hati hamba-Nya yang berdzikir dari suasana yang kurang baik kepada yang lebih baik hingga mencapai yang terbaik.
Kerohanian manusia berada dalam beberapa derajat tingkatan, maka suasana dzikir juga berbeda-beda, mengikut derajat tingkatan rohaninya. Derajat yang paling rendah adalah si raghib yang telah penat dikuasai oleh syaitan dan dunia. Cahaya api syaitan dan fatamorgana dunia menutup hatinya sehingga dia tidak sedikit pun mengingat Allah s.w.t. Seruan, peringatan dan ayat-ayat Allah s.w.t tidak melekat pada hatinya. Inilah golongan Islam yang dijajah oleh sifat munafik. Golongan ini tidak berdzikir langsung.

Golongan kedua berdzikir dengan lidah tetapi hati tidak ikut berdzikir. Lidah menyebut  nama Allah s.w.t, tetapi ingatan tertuju kepada harta, pekerjaan, perempuan, hiburan dan lain-lain. Inilah golongan orang Islam yang awam. Mereka dinasehatkan supaya jangan meninggalkan dzikir karena dengan meninggalkan dzikir mereka akan lebih dihanyutkan oleh kelalaian.. Tanpa dzikir, syaitan akan lebih mudah memancarkan gambar-gambar tipuan kepada cermin hatinya dan dunia akan lebih kuat menutupinya. Dzikir pada peringkat ini berperanan sebagai „juru ingat‟. Sebutan lidah menjadi teman yang mengingatkan hati yang lalai. Lidah dan hati berperanan separti dua orang yang mempunyai minat yang berbeda. Seorang enggan mendengar sebutan nama Allah s.w.t, sementara yang seorang lagi memaksanya mendengar dia menyebut nama Allah s.w.t. Sahabat yang berdzikir (lidah) mestilah memaksa bersungguh-sungguh agar temannya (hati) mendengar ucapannya. Di sini terjadilah peperangan di antara tenaga dzikir dengan tenaga syaitan yang disokong oleh tenaga dunia yang coba menerjang tenaga dzikir dari upaya memasuki hati.

Golongan yang ke tiga adalah mereka yang tenaga dzikirnya sudah berhasil memecahkan dinding yang dibina oleh syaitan dan dunia. Ucapan dzikir sudah berhasil masuk ke dalam hati. Tenaga dzikir bertindak menyucikan hati dari karat-karat yang melekat padanya. Pada mulanya ucapan dzikir masuk ke dalam hati sebagai sebutan nama-nama Allah s.w.t. Setelah karat hati sudah hilang maka sebutan nama-nama Allah s.w.t akan disertai oleh rasa mesra yang mengandung kelezatan dan kenikmatan. Pada peringkat ini dzikir tidak lagi dibuat secara paksa. Hati akan berdzikir tanpa menggunakan lidah. Sebutan nama-nama Allah s.w.t menujukan hati kepada Empunya nama-nama, menghayati sifat-sifat-Nya sebagaimana yang dinamakan.

Golongan ke empat ialah mereka yang telah sepenuhnya dikuasai oleh Haq atau hal ketuhanan. Mereka sudah keluar dari pembatas alam maujud dan masuk ke dalam hal yang tidak ada alam, yang ada hanya Allah s.w.t. Tubuh kasar mereka masih berada di atas muka bumi, bersama-sama makhluk yang lain. Tetapi, kesadarannya terhadap dirinya dan makhluk sekaliannya sudah tidak ada, maka kewujudan sekalian yang maujud tidak sedikit pun mempengaruhi hatinya. Mereka karam dalam dzikir dan yang dizikirkan. Mereka yang berada pada tahap ini telah terlepas dari ikatan manusiawi dan seterusnya mencapai penglihatan hakiki mata hati.


Sumber : Syarh Al-Hikam Ibnu Athaillah