Minggu, 05 April 2015

Khasiat Dzikir - Hadits ke 17

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari Kiamat akan ada penyeru yang berseru, “Di manakah orang-orang yang berakal?” Lalu akan ditanya, “Orang-orang berakal manakah yang engkau kehendaki?” Ia berkata, “Yaitu orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, dan memikirkan kejadian langit dan bumi. (Dan berkata) ‘Wahai Rabb kami, Engkau tidak menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari adzab api neraka.’ Kemudian dipancangkan untuk mereka sebuah bendera, dan setiap kaum akan mengikuti bendera masing-masing. Dan dikabarkan kepada mereka, ‘Masuklah ke dalam surga untuk selama-lamanya.’” (Asbahani).
Faedah
‘Memikirkan kejadian langit dan bumi’ yaitu memikirkan kekuasaan Allah dan memikirkan hikmah-hikmah ajaib yang terkandung di dalamnya, sehingga akan menguatkan ma’rifatnya kepada Allah swt..
Wahai Rabbku, alam ini adalah taman ciptaan-Mu.
Ibnu Abi Dunya rah.a. meriwayatkan sebuah hadits mursal bahwa suatu ketika Rasulullah saw. menjumpai sekumpulan sahabat r.a. yang sedang duduk berdiam diri. Beliau bertanya, “Ada apa, apakah yang sedang kalian pikirkan?” Jawab mereka, “Kami sedang memikirkan ciptaan Allah.” Sabda beliau, “Ya, janganlah kalian memikirkan tentang Dzat Allah, tetapi pikirkanlah tentang makhluk ciptaan-Nya.”
Seseorang bertanya kepada Aisyah r.a., “Ceritakanlah kepada kami amal Rasulullah saw. yang menakjubkan.” Jawab Aisyah r.a., “Semua amal Rasulullah saw. tidak ada yang tidak menakjubkan. Suatu ketika, pernah beliau datang dan berbaring di tempat tidurku dan masuk ke dalam selimutku, lalu tiba-tiba beliau bangkit dan bersabda, ‘Biarkan aku beribadah di hadapan Rabbku.’ Kemudian beliau berwudhu dan shalat sambil menangis sehingga air matanya mengalir membasahi dadanya yang mulia. Lalu beliau pun ruku’ sambil menangis, kemudian sujud sambil menangis. Beliau terus shalat seperti itu sehingga Bilal r.a. datang untuk mengumandangkan adzan Shubuh. Aku bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, bukankah engkau maksum, dosa-dosa engkau telah diampuni. Mengapa engkau menangis seperti itu?’ Beliau menjawab, ‘Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur? Wahai Aisyah, bagaimana aku tidak menangis padahal Allah telah menurunkan ayat:
——- arab ——-
Sabda Beliau selanjutnya, ‘Sungguh celaka orang yang membaca ayat ini, lalu tidak memikirkan dan merenungkan kebesaran Allah.’”
Amir bin Abdul Qais rah.a. berkata, “Aku mendengar bukan hanya dari seorang, dua orang, atau tiga orang sahabat, namun aku mendengar dari banyak sahabat bahwa nur keimanan adalah kerisauan dan pikir.” Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang yang terlentang di atas rumahnya melihat langit dan bintang-bintang lalu berkata, ‘Demi Tuhan, aku yakin bahwa kamu (langit dan bintang-bintang) pasti ada yang menciptakan. Ya Allah, ampunilah aku,’ maka Allah akan memandangnya dengan rahmat-Nya dan mengampuninya.” Ibnu Abbas r.a. berkata, “Berpikir sesaat lebih baik daripada ibadah semalam suntuk.” Abu Darda dan Anas r.a. juga meriwayatkan hadits serupa. Anas r.a. berkata, “Berpikir sesaat (tentang kebesaran Allah) lebih baik daripada beribadah delapan puluh tahun.” Seseorang bertanya kepada Ummu Darda r.a., “Apakah ibadah Abu Darda yang paling utama?” Jawabnya, “Merenung dan berpikir.” Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun.”
Riwayat-riwayat di atas bukan berarti bahwa kita tidak perlu beribadah lagi, sebab masing-masing ibadah memiliki derajat dan keutamaan tersendiri, baik ibadah fardhu, sunah, maupun mustahab. Jika seseorang meninggalkan ibadah tersebut, maka ia akan dicela dan disiksa sesuai dengan amal yang telah ditinggalkannya. Imam Ghazali rah.a. menulis bahwa merenung dan berpikir adalah ibadah yang lebih afdhal, terutama karena mengandung dzikir di dalamnya. Selain itu, ada dua keutamaan lainnya, yaitu:
1. Memperoleh ma’rifatullah, karena merenung dan berpikir adalah kunci ma’rifatullah.
2. Mencintai Allah.
Merenung dan berpikir akan menimbulkan cinta kepada Allah. Merenun dan berpikir inilah yang dikatakan oleh para ahli tasawuf sebagai muraqabah. Banyak hadits yang menyebutkan tentang keutamaan muraqabah. Dalam Musnad Abu Ya’la disebutkan dari Aisyah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Dzikir perlahan sehingga malaikat tidak dapat mendengarnya berpahala tujuh puluh kali derajat lebih utama.” Pada hari Kiamat, Allah akan mengumpulkan seluruh makhluk untuk dihisab. Dan Kiraman Katibin, yaitu Raqib dan Atid akan membawa catatan amal seluruh mahluk. Allah berfirman, “Periksalah catatannya, apakah ada amal si fulan yang tersisa atau tidak tertulis?” Dijawab oleh malaikat, “Kami telah menulis seluruh amalan dan tidak ada yang tertinggal atau yang tidak terjaga.” Allah berfirman, “Masih ada di sisi-Ku amalan yang belum engkau tulis karena tidak engkau ketahui, yaitu dzikir khafi (dzikir qalbi).”
Imam Baihaqi menulis dalam Syu’bil-Iman, riwayat Aisyah r.ha. bahwa dzikir khafi yang tidak diketahui oleh malaikat tujuh puluh kali lebih baik daripada dzikir jahr yang dapat didengar oleh para malaikat.
Seuntai syair menyebutkan:
Ada isyarat-isyarat rahasia antara yang mengasihi dan yang dikasihi
sehingga malaikat pun tidak mengetahuinya
Betapa beruntung mereka yang tidak melalaikan dzikir sedikit pun dan tetap mendapat pahala beribadah zhahir, ditambah dzikir dan pikirnya setiap saat yang berpahala tujuh puluh kali lipat. Inilah yang sangat ditakuti oleh syaitan. Diriwayatkan bahwa Syaikh Junaid rah.a. melihat di dalam mimpinya syaitan sedang bertelanjang. Ia berkata kepada syaitan, “Apakah kamu tidak malu bertelanjang di depan manusia?” Jawab syaitan, “Mereka bukan manusia. Manusia yang sebenarnya ialah yang sedang duduk di dalam masjid Syauniziyah. Mereka membuat tubuhku kurus dan membakar hatiku.” Junaid rah.a berkata, “Aku pun pergi ke masjid Syauniziyah. Kulihat sekelompok orang sedang menundukkan kepala sibuk bemuraqabah kepada Allah. Ketika melihatku mereka berkata, “Jangan kamu tertipu dengan ucapan syaitan.”
Masuhi rah.a. meriwayatkan hal yang sama, bahwa ia pernah melihat syaitan telanjang. Ia berkata, “Apakah kamu tidak malu berjalan di antara manusia dengan telanjang bulat?” Dijawab, “Demi Tuhan, mereka bukan manusia. Jika mereka manusia, tentu aku tidak dapat mempermainkan mereka seperti anak-anak mempermainkan bola. Manusia yang sesungguhnya ialah mereka yang telah membuat tubuhku sakit.” Ia berkata sambil memberi isyarat ke arah para ahli sufi. Abu Said Al-Khazaz rah.a. berkata, “Aku melihat di dalam mimpi, syaitan menyerangku. Lalu aku memukulinya dengan kayu, tetapi aneh ia tidak menghiraukannya sama sekali. Tiba-tiba kudengar suara ghaib yang mengatakan bahwa ia tidak takut kepada kayu, ia hanya takut dengan nur hati (nur keimanan).”
Dari Sa’ad r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Dzikir yang paling utama ialah dzikir khafi. Dan rezeki yang paling utama ialah yang mencukupi.” Ubadah r.a. berkata, Nabi saw. bersabda, “Dzikir yang utama adalah dzikir khafi. Dan rezeki yang terbaik ialah rezeki yang paling mencukupi (tidak kurang sehingga tidak menjadi miskin. Dan tidak terlalu banyak, sehingga membuat takabur dan menyeret kepada hawa nafsu).” Hadits ini shahih menurut Ibnu Hibban dan Abu Ya’la rah.a.. Rasulullah saw. bersabda, “Berdzikirlah dengan khamil.” Orang-orang bertanya, “Apa dzikir khamil itu?” Sabda beliau, “Dzikir qalbi.”
Dari riwayat-riwayat di atas dapat diketahui bahwa dzikir qalbi adalah dzikir hati. Dan dapat diketahui juga beberapa keutamaan dzikir tersebut. Beberapa hadits lainnya menerangkan keutamaan dzikir jahr (terang-terangan), sehingga dikatakan gila, sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Keduanya merupakan masalah khusus, masing-masing memiliki kelebihan dan keutamaan menurut keadaan yang berbeda. Oleh sebab itu, alim ulama memilihkan dzikir manakah yang sesuai bagi seseorang dan kapan waktu yang mesti dilakukan.
Sumber- Majelis dzikir tawakal Jogjakarta